Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Januari 2018

76 warga negara asing (WNA) asal Tiongkok memasuki wilayah Kabupaten Morowali

76 warga negara asing (WNA) asal Tiongkok memasuki wilayah Kabupaten Morowali


Morowalinews.com -76 warga negara asing (WNA) asal Tiongkok memasuki wilayah Kabupaten Morowali Utara (Morut) pada Agustus 2017. Mereka memasuki Morut dengan tujuan sebagai Tenaga Kerja Asing (TKA).
Majunya industri pertambangan nikel di bumi Tepo Asa Aroa menjadi magnet bagi dunia luar berpatisipasi dalam mengelola mineral nikel yang terdapat di wilayah timur Sulteng. Seiring masuknya investasi dari Tiongkok, pemilik modal ini juga memboyong tenaga kerja dari negaranya.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Morut, Jamaluddin Sudin, mengatakan masuknya tenaga baru dari luar tersebut untuk menggantikan TKA yang telah habis masa kontraknya di PT Central Omega Resuorces Industrial Indonesia (CORII) yang berlokasi di Desa Ganda-Ganda, Kecamatan Petasia. “Baru masuk satu bulan yang lalu di PT CORII, yang dipasok oleh subkontraktor” ujarnya, Rabu (9/10/2017).
Ia menyebutkan, 76 orang TKA itu untuk meneruskan pekerjaan yang ditinggalkan puluhan TKA sebelumnya. “Sebelum puasa ada yang kembali ke Tiongkok,” paparnya.
Berdasarkan data Disnakertrans, jumlah TKA yang berpartisipasi di tambang PT CORII sebanyak 163 orang yang kesemuanya berasal dari Tiongkok. Mereka terlibat dalam pengelolaan biji nikel sebagai tenaga teknis.
“TKA ini berdasarkan pantauan kami, setiap orang itu bekerja tidak sampai satu tahun. Hanya beberapa bulan saja kemudian diganti dengan yang baru. Ada yang bekerja hanya 3 bulan, kemudian kembali lagi kenegara asalnya. Minimal mereka berkerja 3 bulan, maksimal 9 bulan,” jelasnya.
Diketahui nilai investasi smelter nikel PT CORII sebesar Rp1.260.000.000.000. Pendirian industri nikel PT CORII berdasarkan izin lokasi 180.45/KEP.B.MU/0284/XII2016, izin gangguan 504/SK.257/KP2TPM/2015 dan izin lingkungan 660/337/BIHD-6.ST/2014 dengan luas lahan 471,78 hektar. Kebutuhan listrik sebesar 13,8 MW, tenaga kerja 935 orang dengan rincian TKI 429 orang dan TKA 163 orang. Dengan target produksi nikel pic iron 100.000 ton per tahun. 

Minggu, 07 Agustus 2016

Tiga Bank Syariah Jalin Kerja Sama dengan PP Muhammadiyah

Tiga Bank Syariah Jalin Kerja Sama dengan PP Muhammadiyah

JAKARTA — PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Bukopin Syariah, dan PT Panin Bank Syariah melakukan penandatanganan kerja sama manajemen pengelolaan keuangan dengan Pengurus Pusat Muhammadiyah.

Perjanjian kerja sama tersebut tertulis dalam nota kesepahaman (MoU) yang diteken perwakilan direksi tiga bank tersebut dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir di Kantor Pusat PP Muhammadiyah Jakarta, Jumat (5/8/2016).

Ketiga bank tersebut akan memfasilitasi penggunaan jasa atau layanan produk perbankan syariah, melalui sistem integrasi keuangan atau cash management.
Kerja sama layanan cash management mencakup solusi pengelolaan likuiditas, solusi pengumpulan iuran, solusi tagihan, dan solusi pembayaran.

Direktur Utama Bank Syariah Mandiri (BSM) Agus Sudiarto mengatakan, kerja sama tersebut memberikan berbagai manfaat kepada perbankan dan juga Muhammadiyah.

"Bagi BSM, pengelolaan cash management mampu mendongkrak pendapatan berbasis komisi (fee based income). Kita harap pertumbuhan fee based bisa meningkat karena kita tahu anggota
 Muhammadiyah di Indonesia banyak sekali," tambah Agus.

Direktur Utama Panin Bank Syariah Deny Hendrawati mengatakan, program kerja sama dengan
Muhammadiyah selaras dengan fokus Panin Bank Syariah.
"Panin Bank Syariah akan menyiapkan apa saja yang menjadi kebutuhan Muhammadiyah," ujarnya.
Bermodal Uang Jajan dan Anti-gengsi, Dara Cantik Ini Sukses Berbisnis Hijab

Bermodal Uang Jajan dan Anti-gengsi, Dara Cantik Ini Sukses Berbisnis Hijab

JAKARTA--- Menjadi pribadi yang sukses tentu sudah menjadi dambaan bagi setiap orang, apalagi meraih kesuksesan di usia muda, akan menjadi hal yang sangat berharga.

Hal itu dirasakan oleh Intan Hapsari (23), perempuan yang baru lulus dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, beberapa waktu lalu.

Walau masih berstatus fresh graduate, perempuan cantik ini merupakan wirausaha pemula yang sukses sejak berada di bangku kuliah.  Intan dikenal sebagai wirausahawan produk hijab dengan label Agniya.

Bagaimana awalnya? Menurut Intan, dia memulai bisnis hijab sejak kuliah semester lima, atau sekitar 2013. Modal pertamanya adalah uang bulanan sebesar Rp 500.000 dari orang tua.

Dengan uang jajan tersebut, dia membeli hijab dari pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Hasil "kulakan"-nya kemudian dijual kepada teman-teman kampusnya.
"Dulu awalnya saya itu dikasih uang jajan sama ibu bulanan. Pas awal bulan, uangnya agak banyak. 

Saya berpikir untuk putar uangnya," ujar Intan kepada Kompas.com, Selasa (2/8/2016).
Ketika memulai berjualan, Intan harus berjuang menyingkirkan rasa gengsi yang mendera.
"Awalnya saya banyak mikir, terutama gengsi. Saya pikir 'ih ngapain ya jualan, emang nggak malu bawa-bawa tas isinya jilbab terus ketemuan sama yang beli? Orang kira nggak punya uang, paling untungnya berapa'," kata dia.

Tapi, Intan berhasil membuang jauh rasa gengsi itu dan mulai "enjoy" berdagang hijab.
"Nama Agniya dari asmaul husna al-ghaniyu artinya yang maha kaya. Kata guru ngaji saya, supaya saya jadi  orang kaya. Saya percaya sebuah nama adalah doa, jadi saya ikuti saran beliau," tukas dara kelahiran Jakarta, 13 Mei 1993 ini.

Intan bahkan sempat berdagang pakaian impor bekas yang dibeli dari Pasar Senen. Namun usaha ini tidak diteruskan meskipun mendapatkan keuntungan yang cukup besar. Sebab dia ingin fokus di hijab.

“Pakaian bekas yang saya beli, sebelum dijual saya laundry. Dapat untung Rp 5 juta dalam dua minggu,” kata Intan.
Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp 6.000 Triliun Jika 7 Perusahaan Berhasil IPO

Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp 6.000 Triliun Jika 7 Perusahaan Berhasil IPO

JAKARTA, --- Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan, jika tujuh perusahaan yang sedang melakukan proses penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) berjalan lancar, maka nilai kapitalisasi pasar domestik bisa tembus Rp 6.000 triliun.
"Jika prosesnya lancar kapitalisasi pasar modal kita bisa di atas Rp 6.000 triliun," ujar Tito saat dihubungi Kompas.com, Minggu (7/8/2016).

Meski tidak menyebutkan secara rinci perusahaan apa saja yang akan melakukan IPO, namun Tito menyebutkan, berdasarkan data BEI per 5 Agustus 2016, nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia sebesar Rp 5.838 triliun.

Tito menambahkan, kapitalisasi pasar domestik akan semakin besar mengingat kondisi perekonomian dalam negeri yang mulai berangsur naik, membuat para investor semakin menambah portofolio investasinya di pasar modal.

"Ekonomi kita tumbuh lebih dari 5 persen, inflasi stabil, cadangan devisa kita juga naik," imbuh Tito.
Selain itu, program pengampunan pajak atau tax amnesty yang digadang-gadang pemerintah guna menarik dana dari luar untuk masuk ke dalam negeri akan semakin memperkuat perekonomian dalam negeri terlebih di sektor pasar modal.
"Saya juga percaya program amnesti pajak turut memberikan dampak positif bagi pasar modal," tandasnya.

Menurut Tito, kondisi perekonomian dalam negeri yang diprediksi akan terus naik akan terus mendorong dana investor asing mengalir ke pasar saham domestik.
"Aliran dana asing sejak awal tahun sudah lebih dari Rp 32 triliun. Investor domestik jangan ketinggalan," pungkasnya.

Sabtu, 06 Agustus 2016

Rakor Penanaman Modal-Perizinan Dipusatkan di Morowali

Rakor Penanaman Modal-Perizinan Dipusatkan di Morowali

MOROWALI---- Rapat koordinasi (rakor) penanaman modal dan perizinan se Provinsi Sulawesi Tengah, telah sukses digelar, dimana Kabupaten Morowali mendapat kepercayaan bertindak sebagai tuan rumah.

Acara itu, dibuka Wakil Gubernur Sulteng, H Sudarto, bertempat di Gedung Serba Guna Ahmad Hadi, Matano, Kecamatan Bungku, Senin, 21 Maret 2016. Disaat bersamaan, wagub juga membuka secara resmi pameran kawasan industri Morowali Indonesia. Kegiatan itu, juga dihadiri Bupati Morowali, H Anwar Hafid beserta wabub, SU Marunduh, dan Ketua DPRD Morowali, H Ambo Dalle, serta jajaran Muspida.

Ketua Panitia, Dra Hj St Asmaul Husna Syah MM MSi, saat membacakan laporannya, menyampaikan sebagaimana peraturan gubernur No: 13/2015 tentang uraian tugas fungsi dan tata kerja BPMP2TSPD adalah merumuskan dan menyelenggarakan kebijakan Pemerintah Daerah pada bidang penanaman modal dan pelayan perizinan di Sulteng.

Oleh karena itu untuk menyelenggarakan tugas dimaksud maka salah satu fungsi BPMP2TSPD adalah melaksanakan pembinaan dan pengkoordinasian perencanaan dan pelaksanaan kebijakan program-program kegiatan di bidang penanaman modal dan perizinan baik melalui promosi potensi pelaksanaan dan pengendalian investasi maupun terkait pelayanan perizinan.

"Adapun maksud dan tujuan diselengarakannya rakor ini untuk memberikan wawasan kepada semua SKPD terkait bidang penanaman modal dan sebagai forum diskusi untuk mensinergikan perencanaan program kegiatan tahun 2017 serta memberikan pemahaman kepada semua peserta rakor tentang kebijakan dan perencanaan penanaman modal nasional dalam mempertahankan kualitas perekonomian di Sulteng tentang kemudahan berinvestasi," jelas Asmaul Husna.

Ketua panitia juga melaporkan bahwa, peserta rakor berjumlah 125 orang yang terdiri dari kepala SKPD se Sulteng yang membidangi penanaman modal dan perizinan.

Bupati Morowali, H Anwar Hafid, memberikan ucapan selamat datang kepada rombongan wagub termasuk Kaban Penanaman Modal dan Perizinan Sulteng.

"Perlu saya sampaikan, Morowali adalah salah satu kawasan industri dari 13 kawasan industri di Indonesia yang ditetapkan Presiden RI, Joko Widodo, Morowali adalah kabupaten ramah investasi," kata Anwar.

Olehnya itu, ada tiga hal yang perlu diperbaiki dalam ramah investasi pertama data base potensi daerah harus lebih baik, kedua kebijakan yang kuat, dan yang ketiga institusi kelembagaan harus diperbaiki, untuk itu forum ini sangat strategis dan mudah-mudahan bisa melahirkan catatan penting khususnya di bidang penanaman modal dan perizinan di Sulawesi Tengah pada umumnya dan Morowali pada khususnya.

Wagub Sulteng, H Sudarto, berharap agar kedepan rakor-rakor semacam ini juga digelar di daerah kabupaten/kota lainnya. Usai kegiatan, peserta rakor berkesempatan melakukan kunjungan lapangan di lokasi Pabrik PT SMI yang terletak di Kecamatan Bahodopi, dilanjutkan jamuan santap siang di aula PT SMI bersama wagub. (hms/fid)